Sekilas Igirtuhur

Igirtuhur, begitulah biasa sebagian orang mengenalnya, sebuah kampung yang terletak di Desa Cilibur Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. Jauh dari area perkotaan, kurang lebih 15 KM dari arah kota Bumiayu. Mungkin dari sebagian orang desa Cilibur, ada yang mengenal atau bahkan sedikit banget yang tahu letak igirtuhur, bahkan tatkala nama Igrituhur dilontarkanpun banyak orang bertanya Tanya bahkan ada yang menertawakannya, dan memang terdengar sekilas dari namanya saja sangat unik, bahkan sedikit agak seram.
Walaupun begitu, tahu tidak sahabat santri? Rupanya Igirtuhur menyimpan banyak sejarah didalamnya loh..
“Konon, asal nama Igirtuhur, daimbil dari kata Igir & Tuhur. Kata Igir penduduk sana mengartikan dengan nama binatang yaitu macan, sedang tuhur diambil dari jenis warna yaitu putih. Pendapat lain mengatakan bahwa Igirtuhur berasal dari kata Igir = tebing dan Luhur = Macan yang jinak, dari pendapat keduanya memang ada sedikit persamaanya, karena Igirtuhur konon dulunya memang banyak hewan macan berkeluyuran, tetapi mereka tidak mengganggu terhadap masyarakat setempat”. Begitu kata Nur Rohman (23) santri Faidlul Hikmah yang juga termasuk keturunan ke tiga dari embahnya yang bernama Ki Narto, salah satu sesepuh (orang yang dituakan) yang melegenda di Igirtuhur. Hinggga saat ini sesepuh yang masih bersemayam di sana antara lain : Rasmo (96), Rasmadi (70).
Penduduk Igirtuhur, kurang lebih 50 orang, dengan jumlah cacah wuwung 23 rumah. rata dari mereka bermata pencaharian kuli atau disana dikatakan dengan bebedug (buruh cangkul). Hampir sebagian masyarakat disana jago dalam membuat anyaman yang terbuat dari bambu, disana dinamakan dengan kata gribig. Biasanya dipake untuk bahan pembautan rumah bambu, penutup atap, dan ruangan ruangan tertentu. Salah satunya adalah Bpk Sadi (60) selain sebagai petani, dia juga sangat mahir dalam pembuatan gribig, jika ada pesanan, dalam seharinya dia bisa menyelesaikan anyamanya kurang lebih 4x5m. cara membuat gribig tidak jauh beda dengan anyaman-anyaman lain, yang membedakan hanyalah motif dan bahanya, yaitu dengan bamboo yang dipotong tipis hingga lentur dan setelah itu di jemur (dikeringkan) yaitu supaya mempermudah proses penganyaman nanti. Bisanya seorang pemesan menentukan sendiri motif model anyamanya.
Dalam bidang pendidikan, di igirtuhur sangatlah terbelakang, kebanyakan dari mereka hanya lulusan SD dan SMP. Setelah itu mereka lebih banyak bertani, bebedug, dan merantau, tidak lain semua itu karena faktor ekonomi, senyum Nur Rohman disela-sela kesibukanya. Lanjutnya, Begitu pula dalam babagan ilmu agama, dan sadar akan itu, mereka sangat antusias jika ada seseorang yang mau berbagi ilmu untuk masyarakat disana.
Tetapi walau masih tertinggal dengan desa-desa yang lain, masyarakat di sana terkenal dengan kerukunan & kebersamaanya. Mereka berpegang pada pepatah jawa ”sopo sing pisah bakal kalah”, memang bener juga dengan kita pisah maka kita akan hancur (ucap Nur Rohman).
Mereka hanya bisa berharap mudah mudahan pemerintah bisa menindak lanjuti keterbelakangan ini. Demikian semoga jadi inspirasi kita.

Silakan Login terlebih dahulu melalui akun wordpres, facebok atau tewitter yang tersedia untuk meninggalkan komentar dan pesan anda pada kotak dibawah ini:

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s